Showing posts with label Santapan Rohani. Show all posts
Showing posts with label Santapan Rohani. Show all posts

Thursday, October 8, 2009

Gempa Padang, Surah 17 Ayat 16, dan Pelantikan DPR

Mungkin saja kita akan beranggapan bahwa ketiga hal di atas: Gempa di Sumatera Barat yang terjadi pada pukul 17:16 WIB terkait dengan surah ke-17 (Al-Isra) ayat 16 yang “menyindir” pelantikan DPR, sebagai kebetulan, atau “memaksakan”, atau mungkin peringatan dari Allah. Karena sebelumnya saya pernah tulis juga mengenai orang yang “asal tafsir” padahal Allah yang paling memahami maksud sebuah ayat. Jadi, semua itu kembali kepada Anda.

Gempa di Sumatera Barat dan sekitarnya yang terjadi pada pukul 17:16 WIB (meskipun dan padahal beberapa berita menyebutnya pada pukul 17:15 WIB) oleh beberapa orang dihubungkan dengan surah Al-Isra ayat ke-16: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Apa perasaan Anda setelah membaca terjemahan ayat tersebut? Jujur saja saya memang terkejut. Terlepas dari kebenaran tentang korelasi gempa dengan ayat di atas, tapi memang kondisi negeri ini sedemikian “kompleks” (baca: semrawut). Sistem ekonomi yang ada membuat ketimpangan semakin luar biasa kacau. Mereka yang mengaku sebagai “wakil rakyat” berkelakuan semakin menjadi-jadi, bahkan di saat-saat terakhir habisnya masa jabatan mereka.

Awalnya KPU menganggarkan dana pelantikan 1 Oktober 2009 kemarin sebesar 11 miliar Rupiah (Antara). Sementara beberapa kebutuhan “pesta” tersebut antara lain penyediaan tas sebesar Rp115,5 juta; penyediaan jasa kendaraan bus AC dan ambulans sebesar Rp251,9 juta; penyediaan jasa, jaket, baju batik, dan hem lengan Rp149,9 juta; dan penyediaan jasa akomodasi, konsumsi, dan hotel sebesar Rp2,874 miliar (Poskota). Dahsyat kan?

Ternyata 11 miliar hanyalah anggaran dari KPU, belum termasuk anggaran DPR dan DPD. Jadi total sebenarnya acara pelantikan itu adalah 46 miliar Rupiah! (Tribun Jabar). Saya tidak tahu apakah hal ini (penggelembungan dana) dimanfaatkan karena KPK sedang bermasalah? Karena begitu banyak pemborosan yang tidak perlu: pengadaan tas, jaket, batik, dan kemeja, serta pemberian “uang jajan” (Lampung Post). Ingat: “Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk menaati Allah).”

Melihat data di atas berarti uang jajan satu orang “wakil rakyat” (saya mengharuskan pakai tanda petik) yang baru itu adalah Rp. 66,54 juta (Kompas). Saya yakin masyarakat Indonesia berharap “wakil rakyat” yang baru itu berbeda dari yang sebelumnya dan berani menolak penggunaan harta rakyat secara boros, terlebih melihat kondisi bencana yang ada! “Wakil rakyat” itu digaji dari uang rakyat dan seharusnya tidak mengecewakan rakyat.

Data-data di atas mungkin hanya akan membuat kita “psimis” akan pembantu rakyat di sana. Tapi sebagaimana kata Anis Baswedan, kita tidak bisa terus-menerus mengabarkan berita buruk tentang negeri ini, tapi juga kabar positif agar negeri ini bisa bangkit. Ternyata memang, masih ada segelintir kecil “wakil rakyat” yang mempunyai rasa peduli (Republika). Tapi yang perlu kita tahu adalah dana pelantikan tidak sebanding dengan dana bantuan gempa di Sumatera Barat!

Angka pelantikan sebesar Rp 46 miliar lebih di atas dibandingkan dengan dana tanggap darurat gempa di Padang ternyata hampir seperlimanya. Menurut Menkeu, pemerintah mengeluarkan dana tanggap sebesar Rp 250 miliar. Dana ini diperkirakan cukup untuk membiayai tanggap darurat selama dua bulan. “Empati perorangan memang penting. Tapi kesadaran secara kelembagaan di institusi wakil rakyat lebih dibutuhkan!” (Republika). Rp 46 miliar untuk 692 “wakil rakyat” yang hanya beberapa jam, berbanding dengan Rp 250 miliar untuk 200.000 korban gempa selama dua bulan! Hanya ada di Indonesia…

Seandainya saja mereka tahu bahwa kehidupan seorang penguasa Muslim harus sama dengan tingkat kehidupan orang-orang yang paling miskin yang hidup di dalam wilayah kekuasaannya. Bukan kebetulan juga jika kemarin saya membaca ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as, “Tidak pernah aku lihat tumpukan uang tanpa adanya hak-hak yang diabaikan di sampingnya… Tidak seorang pun merasa tetap lapar, kecuali karena alasan bahwa beberapa orang kaya telah terlampau banyak mengambil darinya.”

Update Terakhir: 3 Oktober 2009
Saya sudah menduga bahwa tulisan ini akan ada yang (sedikit) mengkritik, padahal karena saya sudah menduga makanya dari awal saya mengatakan bahwa tulisan ini tidak sedang membenarkan hubungan ayat tersebut dengan kejadian gempa di Sumatera Barat. Semuanya kembali kepada Anda, pembaca yang budiman, untuk menganggapnya sebagai “kebetulan”, “memaksakan”, atau justru “teguran dari Allah”.

Hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bencana yang terjadi di bumi tidak serta merta kejadian alam semata, tapi dosa ingkar terhadap perintah Tuhan bisa mendatangkan bencana. Apakah kita mengira banjir di masa Nabi Nuh as dan azab umat terdahulu semata kejadian alam? Bencana yang terjadi pun menurut saya bukan sekedar hukuman karena “murka” Tuhan; Ar-Rahman dan Ar-Rahim milik Allah jauh lebih tinggi. Sehingga kita ambil kejadian tersebut sebagai “bahan pelajaran”.

Kritik ketiga yang menurut saya klasik adalah kritik teman saya: “Klo mo d banding2in durhaka dan mewah mah jakarta lebih parah… Doli – surabaya juga… Gmn coba???” Jawaban tentang pertanyaan itu sudah ada di bagian Artikel Terkait urutan ketiga Saya hanya ingin menjawabnya dengan ayat: “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka…” (QS. Ali Imran : 178) Wallahua’lam.


~credit to: ejajufri: dahulukan Islam di atas Mahzab~


:Semoga artikel ini dapat di jadikan tauladan kepada kita semua:


Mutiara Hikmah

"Wahai Tuhanku! Janganlah membuatku berada dalam bencana, namun jika engkau menjadikannya bagiku maka jadikanlah aku orang yang bersabar dalam bencana tersebut, akan tetapi jika engkau menyerahkannya padaku tentang apa yang aku inginkan dari-Mu akan kukatakan: 'Keselamatan adalah lebih baik dari bencana'."

Saturday, August 15, 2009

Science and Solat

Profesor AS akui solat berjemaah tersirat aspek sains fizik
Oleh Wan Marzuki Wan Ramli

SEORANG profesor fizik di Amerika Syarikat (AS) membuat satu kajian kelebihan solat berjemaah yang disyariatkan dalam Islam. Berdasarkan kajiannya, tubuh badan kita mengandungi dua cas elektrik, iaitu cas positif dan cas negatif. Dalam aktiviti harian kita, sama ada bekerja, beriadah atau berehat, sudah tentu banyak tenaga digunakan. Dalam proses pembakaran tenaga, banyak berlaku pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita. Ketidakseimbangan cas dalam badan, menyebabkan kita berasa letih dan lesu selepas melakukan kegiatan seharian.

Oleh itu, cas ini perlu diseimbangkan semula untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tahap normal. Berkaitan dengan solat berjemaah, timbul persoalan dalam minda beliau, mengapa Islam mensyariatkan solat berjemaah dan mengapa solat lima waktu yang didirikan orang Islam mempunyai bilangan rakaat yang tidak sama.Hasil kajiannya mendapati, bilangan rakaat berbeza dalam solat bertindak menyeimbangkan cas dalam badan kita.
Ilustrasi: Caj +ve dan -ve Dalam Badan

Ketika solat berjemaah, kita disuruh meluruskan saf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan yang dianjurkan ketika solat berjemaah itu mempunyai pelbagai kelebihan.Kajian sains mendapati sentuhan yang berlaku antara tubuh kita dengan tubuh ahli jemaah lain yang berada di kiri dan di kanan kita, akan menstabilkan kembali cas yang diperlukan oleh tubuh. Ia berlaku apabila cas yang berlebihan – sama ada negatif atau positif akan dikeluarkan, manakala yang berkurangan akan ditarik ke dalam tubuh kita. Semakin lama pergeseran ini berlaku, semakin seimbang cas dalam tubuh kita. Beliau berkata, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan berasa segar dan sihat selepas berehat beberapa jam.

Ketika ini tubuh kita mengandungi cas positif dan negatif yang hampir seimbang. Oleh itu, kita hanya memerlukan sedikit lagi proses pertukaran cas supaya keseimbangan tubuh badan yang penuh dapat dicapai. Sebab itu, solat Subuh didirikan dua rakaat.
Seterusnya, selepas sehari kita bekerja kuat dan memerah otak, semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak daripada tubuh badan yang sudah digunakan. Oleh itu, kita memerlukan lebih banyak pertukaran cas. Solat jemaah yang disyariatkan Islam berperanan memulihkan keseimbangan cas berkenaan. Sebab itu, solat Zuhur didirikan empat rakaat untuk memberi ruang lebih kepada proses pertukaran cas di dalam tubuh. Keadaan sama turut berlaku pada sebelah petang. Banyak tenaga dikeluarkan ketika menyambung kembali tugas. Ia menyebabkan sekali lagi kita kehilangan cas yang banyak.

Seperti solat Zuhur, empat rakaat solat Asar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama. Lazimnya, selepas waktu Asar, kita tidak lagi melakukan aktiviti yang banyak menggunakan tenaga. Masa yang diperuntukkan pula tidak begitu lama. Maka, solat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak tiga rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan tenaga yang kurang berbanding dua waktu sebelumnya.

Timbul persoalan dalam fikiran profesor itu mengenai solat Isyak yang dikerjakan sebanyak empat rakaat. Secara logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan kegiatan dan sudah tentu tidak memerlukan proses pertukaran cas yang banyak. Selepas kajian lanjut dilakukan , didapati ada keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan empat rakaat di dalam solat Isyak.

Kita sedia maklum, umat Islam digalakkan tidur awal supaya mampu bangun untuk menunaikan tahajud (sembahyang malam) pada sepertiga malam. Ringkasnya, solat Isyak sebanyak empat rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan serta memberikan tenaga untuk kita bangun pada waktu malam untuk beribadat (qiamullail).Dalam kajiannya, beliau mendapati bahawa Islam adalah agama yang lengkap dan istimewa. Segala amalan dan suruhan Allah itu mempunyai hikmah yang tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri. Beliau berasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam semesta ini. Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam.